DOK .asr
Bogor-//Asr-tv.com// Di Jalan Pagentongan, Kelurahan Loji, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor tersimpan sejarah panjang mengenai penyebaran agama Islam lewat lembaga pendidikan. Pondok Pesantren Al-Falak, salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Kota Bogor yang didirikan pada Tahun 1901 oleh Ulama besar KH. Tubagus Muhammad Abbas bin KH. Tubagus Abbas, kelahiran Pandeglang, Banten pada tahun 1842 dan Wafat pada 19 Juli tahun 1972. Sedang gelar Falak sendiri diberikan oleh gurunya Syeikh Sayyid Afandi Turqi karena keilmuan beliau dalam ilmu perbintangan sudah meluap di kepalanya.
Tidak hanya menguasai ilmu falak, ketika beliau berada di Kota Mekkah untuk menambang ilmu Agama selama hampir 21 tahun, beliau juga banyak mendalami beberapa bidang ilmu keislaman. Diantaranya menimba ilmu tafsir dari Syeikh Nawawi Al-Bantany dan Syaikh Mansur Al-Madany, ilmu Hadits dari Sayyid Amin Quthbi, ilmu Fiqih dari Sayyid Ahmad Habsy, Sayyid Baarum, Syeikh Abu Zahid dan Syeikh Nawawi Al-Falimbany. Dan tentu masih banyak lagi bidang keilmuan yang beliau pelajari.
Tidak sampai di situ, beliau juga menjadi seorang Mursyid Thariqoh Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, beliau dibai’at oleh guru ilmu Tasawufnya Syekh Abdul Karim ulama Tasawuf besar yang berasal dari Banten.
Sejak usia 17 tahun dari 1857 sampai 1878, sekitar 21 tahun Abah Falak menghisap waktunya untuk memperdalam ilmu Agama di Kota Mekkah.
Sepulangnya ke Tanah Air 1878, Abah Falak dipercaya mengurus Pesantren Sabi peninggalan Ayahandanya yang telah wafat. Walaupun akhirnya beliau memilih untuk Rihlah mencari lokasi untuk dijadikan tempat beliau mensyiarkan ilmu Agama Islam, Abah Falak mengitari Banten sampai ke Bogor, hingga akhirnya beliau memilih Kota Bogor tepatnya di Pagentongan untuk melungsurkan keilmuannya pada masyarakat setempat.
Perjalanan Abah Falak tidaklah mudah dalam mendakwahkan ilmunya, masih banyaknya penganut Animisme di wilayah tersebut, masih banyaknya dukun-dukun aliran hitam membuat langkah beliau tertancap kerikil-kerikil tajam yang cukup menguji tekad dan kesabaran beliau dalam berdakwah, namun itu menjadi tantangan yang beliau anggap sebagai kasih sayang Allah kepada beliau untuk melihat seberapa Istiqamah niat baiknya. Di saat para dukun mengatakan bisa menurunkan hujan pada waktu dekat, Abah Falak memberi Argumen menggunakan ilmunya bahwa musim memang mengalami siklus akibat Revolusi Bumi dan memang sebentar lagi akan memasuki musim penghujan.
Bapak Ubaidillah pengurus Ponpes Al-Falak keturunan ke-5 dari Abah Falak mengungkapkan, “Pada tahun 1892 Abah Falak kembali ke Mekkah atas permintaan gurunya untuk mengajar di Madrasah Shaulatiyah salah satu Madrasah Klasik di Kota Mekkah yang menjadi pabrik pencetak ulama-ulama besar, para muridnya tentu dari berbagai bangsa dan juga Tanah Air, KH. Hasyim Ashari pendiri NU dan KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah termasuk yang pernah mengalap ilmu di Madrasah ini. Sekembalinya ke Nusantara, Abah Falak merintis pesantrennya sendiri, kesabarannya selama bertahun-tahun akhirnya berbuah manis Pesantren Al-Falak berdiri pada tahun 1901. Murid-Murid Abah Falak datang dari berbagai kalangan dari masyarakat awam sampai Ulama besar seperti Abuya KH. Muhammad Dimyati bin Syaikh Muhammad Amin Al-Bantani dan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, serta hampir semua ulama-ulama besar di Bogor pernah mengecap ilmu dari Abah Falak. Ulama kharismatik Abah Guru Sekumpul (Banjar, Kalimantan Selatan) tongkat ketasawufannya juga dibai’at oleh Abah Falak pada tahun 1971. Selain dalam bidang keagamaan, jiwa kebangsaan Abah Falak juga patut diperhitungkan, Abah Falak dan Syeikh Abdul Karim Banten menjadi penggerak pemberontakan petani Banten pada tahun 1888. Bersumber dari Buku karya KH. Saifuddin Zuhri yang berjudul Berangkat dari Pesantren Pada masa Revolusi Fisik pasca Kemerdekaan Abah Falak bersama tiga ulama besar, KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Abbas Buntet Cirebon, KH. Zaenal Mustofa Singaparna melatih ilmu agama, kebatinan dan beladiri kepada Laskar Hizbullah di daerah Cibarusa yang nantinya akan disebar ke daerah-daerah perlawanan Agresi Militer Belanda. Hubungan Abah Falak dengan tokoh-tokoh nasional juga terkoneksi dengan baik menurut hasil penelitian Nurcholish Madjid pada tahun 1973. Banyak tokoh nasional yang datang ke Pagentongan untuk berdiskusi. Nasehat dari Abah Falak yang menjadi pedoman anak cucunya adalah dalam diri Abah Falak ada 3 anasir : Islam, Kebangsaan, Umat.”
Bersyukur Kota Bogor pernah memiliki Abah Falak Ulama Bintang yang cahaya keilmuannya masih tetap gemerlapan hingga saat ini.
Irwan Darmawan
Depok
Sabtu, 16 Mei 2026


