Dok asr
Bogor-//Rajakabar.id// Berbicara soal Masjid Besar As-Shoheh Citeureup tidak bisa dipisahkan dengan membicarakan Pangeran Sake, berbicara soal Pangeran Sake tidak bisa dilepaskan dengan membicarakan Perlawanan Sultan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa.
Tidak jauh dari Masjid Besar As-Shoheh terdapat situs cagar budaya berupa makam, dan makam itu adalah makam Pangeran Sake, dengan nama Asli Muhammad Safruddin Shoheh, di Kel. Karang Asem Timur, Kec. Citeureup, Kab. Bogor. Tidak dapat diketahui dengan pasti kapan Pangeran Sake dilahirkan. Akan tetapi jejaknya tercatat di berbagai literatur Kesultanan Banten. Pangeran Sake adalah putra dari Sultan Ageng Tirtayasa, beliau bersaudara dengan Pangeran Purbaya, Pangeran Sogiri dan Pangeran Sanghyang.
Tahun 1682 ketika Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) para putra dari Sultan Abdul Fatah atau Sultan Ageng Tirtayasa tetap melancarkan perang Gerilya, membangun poros-poros perlawanan menuju ke arah timur Kota Bogor meliputi Citeureup, Gunung Putri, Cileungsi, Cibarusa hingga Cikalong, mengutip dari (Kajian Sejarah Penyebaran Islam di tatar Sunda Oleh Sejarawan Hendra Astari)
Ketika Pangeran Purbaya tertangkap Kompeni dan dipenjarakan di Benteng Batavia, Pangeran Sake berhasil lolos, lalu menetap di Jatinegara Kaum, yang memang sejak era Pangeran Jayakarta dijadikan Basis perlawanan kesultanan Banten terhadap VOC. Namun tidak lama menetap di Jatinegara Kaum, karena pihak VOC terus mengejar keturunan dari Sultan Ageng Tirtayasa, Pangeran Sake kembali Ke Citeureup dengan tetap menyokong perlawanan terhadap pihak kompeni, Pangeran Sake juga pada akhirnya sempat tertangkap pihak VOC dan diasingkan ke Sukapura ada juga literatur yang menyebutkan diasingkan ke Ceylon atau Srilanka saat ini, lalu dipulangkan kembali ke Citeureup (Bersumber dari Buku Catatan Masa Lalu Banten)
Menurut Ibu Nung, cerita nenek dan ibunya, yang masih keturunan dari Pangeran Sake, “Dulu di sini (Citeureup) ada benteng yang mengelilingi Kampung Karang Asem Timur yang didirikan oleh Pangeran Sake.” Menurut Ibu Nung juga, “Sekitar 10 tahunan lalu Dinas Kebudayaan Kab. Bogor pernah datang ke sini untuk membuktikan bahwa tempat yang sering diziarahi ini adalah benar sebuah makam, mereka pakai alat gitu dan akhirnya terbukti bahwa benar ini memang sebuah makam, lalu selang beberapa tahun dipugar dan dijadikan Situs Cagar Budaya berupa makam. Ibu Nung juga mengungkapkan yang datang ke sini banyak dari Banten yang bergelar Tubagus, Cirebon, Cianjur, Cibarusa dan juga banyak etnis Tionghoa datang berziarah ke sini.”
Hendra Astari Sejarawan kota Bogor juga mengungkapkan dalam kajian sejarahnya di MUI Kota Bogor bahwa Orang-Orang Tionghoa di Citeureup punya rasa hutang jasa terhadap Pangeran Sake sebab ketika terjadi Geger Pecinan 1740 terjadi eksodus warga Tionghoa dari Batavia ke sekitaran Bogor termasuk Citeureup untuk menghindari pembantaian terhadap kaum Tionghoa, dan di Citeureup mereka sangat dilindungi oleh Pangeran Sake, sehingga saat ini di klenteng-klenteng Tionghoa di Kota Bogor, khususnya Citeureup ada altar khusus untuk Pangeran Sake.
Sedang julukan Pangeran Sake disematkan karena beliau sering membawa Sake (Tempat minum yang terbuat dari rotan) ketika dakwah ataupun mengkonsolidasi perlawanan terhadap VOC. Atas jasa-jasa Pangeran Sake dalam membuka wilayah Citeureup dari yang dulu hutan lebat menjadi perkampungan padat, mendakwahkan Islam dan menjadi tokoh pejuang melawan VOC, akhirnya masyarakat Citeureup memanifestasikan rasa terima kasih dan hormat kepada Pangeran Sake dengan membangun Masjid Besar As-Shoheh pada tahun 1920.
(Irwan Darmawan)


