ASR

lisensi

Advertisement

Tuesday, 26 May 2026, May 26, 2026 WIB
Last Updated 2026-05-26T08:18:50Z

Raden Saleh Sang Maestro Seni Lukis Kelas Dunia


BOGOR //ASR -TV.COM//Di Sebuah Gang kecil di pinggir Jalan Pahlawan Kota Bogor, kita akan menemukan hal besar yang terdapat di lorong-lorongnya yang terhimpit pemukiman warga. Makam seorang resi seni lukis Indonesia, Raden Saleh Sjarif Boestaman. Lahir di Kota Semarang Circa 1813-1816 dan wafat 23 April 1880 di Kota Bogor.
Kiprahnya di dunia seni lukis menggelanggang gemilang baik di Hindia Belanda maupun di pentas dunia. Raden saleh memiliki jalur Nasab ulama dari Ayahnya, Sayyid Sholeh bin Husein bin Awudh bin Hasan bin Awudh bin hasan bin Yahya sedang dari Ibunya keturunan dari Menak raja-raja Jawa. Pelukis keturunan priyayi dan ulama ini mulai kelihatan bakat melukisnya ketika bersekolah di sekolah rakyat Volksschool.
Saat memasuki usia dewasa Raden saleh banyak membangun relasi dengan orang-orang Belanda, salah satu orang Belanda yang menjadi titik awal perjalanan panjangnya dalam dunia seni lukis adalah Prof. Caspar Reindwardt pendiri Kebun Raya Bogor, kemudian sang Profesor mengenalkan Raden Saleh pada A.A.J Payen seorang pelukis asal Belgia. Profesor Caspar Reindwardt menyampaikan bakat brilian Raden Saleh dalam seni lukis, dan mulai saat itu Payen membimbing bakat Raden Saleh agar menuju mumpuni.
Pada tahun 1829, Raden Saleh mendapatkan kesempatan belajar seni lukis di Belanda yang dibiayai oleh mantan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van der Capellen. Baru lima tahun di Belanda Raden Saleh sudah membuat warga Belanda terkesima. Pemerintah Kerajaan Belanda kembali mengirim Raden Saleh untuk memperdalam ilmu seni lukisnya di Jerman selama satu tahun dari 1843 sampai 1844, hingga akhirnya Raden Saleh menjadi pelukis Kerajaan Belanda.

Raden Saleh memantapkan aliran seni lukisnya setelah ia mengidolakan pelukis masyhur asal Perancis Eugene Delacroix. Raden Saleh memutuskan alur seni lukisnya beraliran Romantisisme yang Dramatik dengan menjadikan alam, hewan, dan manusia sebagai objeknya.

Tidak sampai di Belanda dan Jerman, Raden Saleh terus mengembara keliling Eropa bahkan sampai ke Aljazair untuk mengais ilmu seni lukisnya, di Aljazair Raden Saleh semakin tertarik melukis kehidupan satwa dan menjadikannya pelukis satwa liar pertama di Hindia Belanda kelak.

Ada banyak lukisan Raden Saleh yang dikenal dunia, namun ada dua Masterpiece karyanya yang akan selalu diingat oleh insan seni lukis di seluruh Dunia, pertama lukisan Raden Saleh yang berjudul Banteng Melawan Singa, Banteng merepresentasikan bangsa pribumi yang tetap gagah berani melawan Singa yang merepresentasikan bangsa Belanda yang menindas. Lukisan kedua berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857) lukisan ini untuk mengkonfrontasi lukisan karya Nicolaas Pieneman (1835) dalam lukisan Raden Saleh beliau menggambarkan wajah pangeran Diponegoro yang terlihat tegak dan marah di hadapan pejabat Belanda mengilustrasikan bahwa Pangeran Diponegoro dijebak oleh pihak Belanda, berbeda dengan lukisan Nicolaas Pieneman yang menggambarkan Pangeran Diponegoro yang membelakangi pihak Belanda sambil menenangkan pengikutnya yang duduk bersimpuh di hadapan para pejabat Belanda. Dari lukisan Pangeran Diponegoro ini dapat disimpulkan pembelaan Raden Saleh kepada warga pribumi serta bentuk perasaan nasionalismenya. (Sumber : Buku Raden Saleh Kehidupan dan Karyanya)

Warga setempat, Neneng (57 tahun) menceritakan, “Makam Raden Saleh baru ditemukan kembali pada tahun 1923 oleh Adoeng Wiraatmadja, tanpa disengaja ketika Adoeng sedang membabat ilalang di depan rumahnya ia mendapati gundukan batu dengan dengan nisan yang terbuat dari marmer hitam dan di nisan tersebut terukir dengan bahasa Belanda nama Raden Saleh dan segala jasa dan karyanya.”

Kegemaran Raden Saleh melukis satwa liar juga membuat kediamannya di Cikini menjadi kebun binatang mini agar ia lebih mudah melukis satwa liar tanpa harus pergi ke dalam hutan. Kebun binatang ini didirikan tahun 1864 dan menjadi cikal bakal Kebun Binatang di Jakarta yang didirikan tahun 1969 dengan memindahkan satwa-satwa yang ada di Kebun Binatang Cikini milik Raden Saleh ke wilayah Ragunan. Kini lokasi Kebun Binatang Cikini dan kediaman Raden Saleh menjadi tempat yang kita kenal dengan nama Taman Ismail Marzuki.


Irwan Darmawan